diposkan pada : 02-11-2021 15:05:28

Suatu hari saat kelompok A sedang belajar…

ada Seorang murid, Zahira namanya, ia terjatuh. Dan kemudian menangis histeris memanggil ibunya.... "nda....nda....lututku sakit...."
Segera ibu gurunya datang  dan menanyakan pada Zahira apa yang telah terjadi. 
Melihat Zahira yang terluka dengan goresan kecil di lututnya, sang guru lalu mencoba untuk membujuk Zahira untuk diam menghentikan tangisannya...
Namun Zahira tetap histeris bahkan makin keras tangisannya. Hingga teman-teman lain yang mendengarnya merasa seolah-olah luka di lutut Zahira sangat parah.

“Sakit ya, Nak?” kata ibu guru sambil menggendong Zahira, lalu mengambil kapas dan juga alkohol serta obat merah untuk untuk lukanya.

namun Sebelum kapas ditempelkan untuk membersihkan lututnya, raungan Zahira semakin mengeras.

“Ssstt.... Zahira, Ibu lihat luka ini kecil kok, Ibu akan segera bersihkan dan obati ya, Insya Allah nanti akan segera sembuh.”

Kata-kata dari sang guru tak juga membuat tangisan Zahira jadi pelan. Apalagi dia malah meronta-ronta tidak ingin diobati.

“Baiklah, jika Zahira tak mau diobati, .. tapi ibu guru ingin Zahira dengarkan baik-baik yang bu guru ingin ceritakan. 
Dahulu kala, Rasullah punya sahabat. dan Sahabat Rasulullah tersebut sedang sholat. saat sedang sholat itu Tiba-tiba ada musuh yang memanahnya hingga punggungnya terluka oleh panah. 
Darah dipunggungnya pun mengucur. Banyaaak sekali… tapi dia tidak menangis. dia juga bahkan tidak merasakan sakitnya dan tetap menyelesaikan shalatnya hingga selesai. Dia sahabat yang kuat dan berani.”

seketika tangisan Zahira mulai terdengar pelan.
Melihat caranya bercerita mulai masuk ke perhatian dan fokus Zahira, bu Guru segera melanjutkan kisahnya dengan suara yang tenang, lembut namun tetap begitu meyakinkan.

“eh lalu ternyata ada juga lho sahabat yang lain, Saat itu dikisahkan Rasulullah sedang berperang dengan orang-orang kafir. Lalu Seorang sabahat yang ikut dalam berperang, Tangan kanannya memegang pedang dan terkena tebasan pedang dari musuh, namun Tangan kiri dari sahabat ini segera memegang pedang dan dia tetap berperang menggunakan pedangnya di tangan kirinya…”

Sampai di sini, Zahira menghentikan tangisannya.

“Ibu tahu bahwa Zahira anak yang sangat berani. Luka seperti ini, mah, keciiiilll… Sekarang boleh kan, ibu meneruskan mengobati lukanya…?”

Zahira mengangguk. Dan ternyata, cerita bu guru tadi sudah mencuri perhatian murid-muridnya yang lain. 
Tak sadar saat sang guru bercerita tadi, teman-teman Zahira yang lain mengerubungi mereka dan meminta agar cerita tersebut dilanjutkan...
"ayo bu, lanjutkan lagi ceritanya...."